Return to Index  

Kebesaran Brahman dalam Agama Hindu

January 23 2002 at 4:56 PM
Tjok Gede Putra 

 

Pendahuluan.

Setiap negara pasti mempunyai falsafah sesuai dengan kondisi dan situasi saat negara didirikan, yaitu didasarkan pada latar belakang seperti budaya, politik, ekonomi, penduduk, wilayah dan lain-lainnya dari negara tersebut sebelum dibentuk, yang merupakan dasar dari negara. Sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, dasar negaranya sudah ada yang dicetuskan oleh Ir. Soekarno sebagai proklamator negara R.I. pada tanggal 1 Juni 1945 yaitu yang kita kenal lahirnya Panca Sila.

Dari kelima sila yang terdapat dalam Panca Sila, pada sila pertama tercantum Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana bangsa kita percaya adanya Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai way of life (pandangan hidup) bangsa Indonesia. Sesuai dengan keputusan pemerintah bahwa di Negara RI terdapat 5 agama besar yang diakui yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Dengan adanya Panca Sila sebagai dasar negara R I, maka negara kita sampai saat ini utuh menjadi satu yaitu suatu negara kesatuan.

Saat ini banyak dibicarakan negara federasi, karena negara kesatuan dianggap tidak berhasil untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang telah berjalan 53 tahun, dan kenyataannya saat ini terjadi banyak krisis seperti krisis pangan, krisis moneter (krismon), krisis ekonomi, krisis moral dan lain-lainnya yang menyebabkan negara kita hampir bangkrut. Akhir-akhir ini banyak dibicarakan masalah bentuk negara sehingga banyak diperdebatkan baik dalam seminar, debat terbuka, maupun dalam pembentukan partai-partai baru. Seandainya bentuk negara kesatuan diubah menjadi negara federasi bagaimana falsafah negara kita Panca Sila, apakah masih dipertahankan atau mengalami perubahan pada hal Panca Sila mengandung nilai-nilai luhur dari pada bangsa Indonesia .Apabila Panca Sila masih dipertahankan maka jelas Ketuhanan Yang Maha Esa tetap menjadi dasar negara, sehingga bangsa kita tidak terdiri dari orang-orang atheis.

Bagi umat Hindu ini adalah masalah prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah kepercayaan kepada Hyang Widi Wasa adalah masalah keyakinan yang tidak boleh diabaikan atau ditawar-tawar, dan umat Hindu akan selalu berdiri didepan apabila ada orang yang melecehkan keyakinan kepada Hyang Widhi Wasa. Umat Hindu percaya adanya Tuhan Yang Maha kuasa yaitu Brahman dengan kitab suci Weda sebagai tuntunan (ajaran-ajaran)-nya dan Panca Sila menjamin warga negaranya untuk memeluk agamanya masing-masing sesuai dengan kepercayaannya. Apabila setiap napas kehidupan baik dalam organisasi politik, sosial, militer dan lain lainnya sudah berazaskan Panca Sila sebagai landasan organisasinya, maka bagi umat Hindu ada suatu jaminan mengenai keharmonisan hubungan antar agama di negara RI yang tercinta ini, dan kerukunan beragama dapat dijalin dengan baik. Sebab akhir-akhir ini banyak terjadi perselisihan antar umat beragama pada hal pemerintah selalu mengimbau kepada seluruh kekuatan bangsa agar selalu menjaga kerukunan beragama . Kita sebagai umat Hindu selalu berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Weda di manapun kita berada. Kalau kita sudah percaya dan yakin kebesaran Brahman pasti kita akan selamat, Hyang Widhi Wasa akan selalu melindungi umatnya.

Brahman hanya satu tidak ada duanya
Di dalam Tatwa (filsafat) agama Hindu, kita mengenal adanya Panca Srada yaitu lima keyakinan/kepercayaan yang harus diakui yaitu: Brahman, Atma, Punarbawa (Samsara), Karma Pala, dan Moksa. Sebelum kita mempelajari srada-srada yang lain maka kebesaran Brahman yang harus kita ketahui terlebih dahulu sebab Brahman merupakan inti dari semua ajaran yang terdapat dalam agama Hindu. Kalau kita tidak percaya dan yakin adanya Brahman yaitu Hyang Widhi Wasa, kita akan percuma mempelajari ajaran Weda yang lain. Hyang Widhi Wasa adalah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan, memelihara, pemralina (melebur) semua yang ada di alam semesta ini.

Brahman mempunyai sifat-sifat maha kuasa, maha mulia, maha pengasih, dan tiada terbatas. Dengan sifat-sifat kemahaan-Nya inilah manusia sulit membayangkan bentuknya bagaimana, apakah wujudnya seperti manusia, apakah wujudnya seperti patung-patung yang ada di tempat tempat pemujaan (pura) di Bali, manusia tidak akan dapat memberikan jawaban karena manusia mempunyai kemampuan terbatas.

Tetapi kalau kita pelajari kitab-kitab suci disebutkan bahwa Ekam Eva Adwityam Brahman yang artinya hanya satu tidak ada duanya Brahman. Kadang-kadang orang tidak mau mendalami filsafat Hindu, padahal dengan pengetahuan yang dangkal dan terbatas akan timbul salah pengertian, seperti ada yang berpendapat bahwa agama Hindu mempunyai banyak Tuhan, menjembah patung, yang lebih menyesatkan adalah menyebutkan bahwa kitab Weda sebagai kitab suci Hindu bukan wahyu Tuhan. Semua pendapat-pendapat yang menyesatkan tersebut adalah akibat dari kurang mendalamnya pengetahuan mereka terhadap ajaran-ajaran Hindu yang terdapat dalam Weda. Mereka hanya tahu sepotong-sepotong yang mengakibatkan salah interprestasi. Pengetahuan yang dangkal dan sempit sangat berbahaya. Kalau kita pelajari beberapa kitab-kitab suci Hindu, banyak menyebutkan bahwa Tuhan itu tidak ada duanya, hanya manusia menyebut dengan beberapa nama.

Sebagai ilustrasi dapat diceritrakan sebagai berikut. Misalnya dalam suatu keluarga kedudukan seorang ayah, kalau istrinya akan menyebut dia adalah suaminya, kalau anaknya akan menyebut dia adalah bapaknya (ayah), kalau cucunya akan menyebut dia kakeknya demikian seterusnya sampai mempunyai banyak nama, padahal orangnya adalah satu. Demikian pula Hyang Widhi Wasa mempunyai beberapa nama sesuai dengan fungsinya, bukan berarti umat Hindu menganut paham polyteisme, menyembah banyak Tuhan. Umat Hindu selalu percaya adanya satu Tuhan yaitu Brahman sebab umat Hindu menganut paham monoteisme

Eko Narayanad Na Dwityo 'Sti Kaccit artinya hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya. Dalam lontar Sutasoma disebutkan juga bahwa Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma mangrwa, yang artinya berbeda-beda tetapi satu tidak ada dharma yang dua. Juga dikatakan: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti artinya hanya satu (Ekam) Hyang Widhi (sat=hakekat) hanya orang yang bijaksana (Viprah) menyebutkan (Wadanti) dengan banyak nama (Bahuda). Sesuai dengan fungsinya Hyang Widhi Wasa juga disebut dengan Tri Sakti yang terdiri dari Brahma adalah fungsinya sebagai pencipta (Utpatti), Wisnu yang fungsinya sebagai pelindung, pemelihara dengan segala kasih sayangnya (Shiti) dan Siwa fungsinya sebagai melebur (Pralina) dunia beserta isinya dan mengembalikan dalam peredarannya ke asal (sangkan paran) yaitu kembali ke asal.

Untuk dapat meresapkan kemaha-kuasaan Hyang Widhi Wasa, agama Hindu menggunakan simbol-simbol seperti aksara suci OM. Aksara OM mempunyai kekuatan yang luar biasa bagi orang yang tahu menggunakannnya. Aksara OM berasal dari tiga huruf yaitu A, U, M yang mempunyai arti sebagai berikut. Aksara A adalah Brahma dalam pembawaannya maha pencipta, aksara U adalah Wisnu dalam pembawaannnya maha pelindung dan M adalah Siwa dalam pembawaannnya maha pelebur. Kalau kita perhatikan Mantra Gayatri, setiap memulai satu bait pasti didahului dengan aksara OM artinya aksara OM mempunyai suatu kekuatan yang luar biasa. Apabila kita menyebutkan akasara OM dengan hening dan khusuk, kita akan dapat berhubungan dengan Hyang Maha Kuasa. Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Dalam ilmu metematik nilai 0 tidak mempunyai arti yaitu kosong, misalnya seperti kalender tidak mengenal tanggal 0 yang dikenal hanya angka 1 sampai 9. Angka 0 mempunyai nilai kalau sudah dikombinasikan dengan angka-angka lain seperti 10, 20 dan 30. Angka 0 diumpamakan aksara OM, kalau dalam ilmu metematik tidak mempunyai nilai, tetapi kalau ditempatkan pada tempat tertentu akan mempengaruhi nilai dari pada bilangan yang bersangkutan. Misalnya angka 5 kalau di sebelah kanan kita isi angka 0 maka nilainya akan bertambah menjadi 50, jangan disisipkan simbol-simbol lain seperti + (tambah), - (kurang), x (kali), : (bagi) . Demikian seterusnya setiap penambahan angka 0 di sebelah kanan bilangan tersebut semakin bertambah nilainya. Tetapi apabila angka 0 ditempatkan di sebelah kiri berapapun angka 0 disisipkan tidak akan mempunyai nilai apa-apa.

Apabila kita selalu memuja Hyang Widhi Wasa dengan menyebutkan OM dengan terus menerus dengan hening, semua keterikatan seperti tanda + (tambah), - (kurang), x (kali), : (bagi) kita hilangkan, maka kita akan mendapat kekuatan yang luar biasa dan selalu dapat perlindungan. Jangan sebaliknya kita tidak pernah dan tidak tahu kebesaran aksara OM sebagai wujud Hyang Widhi Wasa, di mana angka 0 kita tempatkan di sebelah kiri.

Demikianlah sebagai ilustrasi bahwa kebesaran OM sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia dengan menganugrahkan keselamatan. Kadang-kadang manusia tidak percaya bahwa aksara OM adalah sebagai kebesaran Hyang Widhi Wasa. Mereka yang tidak mengerti menganggap tidak mempunyai nilai karena kemampuan manusia sangat terbatas hanya melihat dengan kasat mata seperti nilai 0 tadi. Mantra Gayatri merupakan penjabaran Sabda Pranawa atau OM di mana mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan mengucapkan OM dengan hening dan khusuk, kita mohon perlindungan dan keselamatan.. Bagi umat Hindu kepercayaan atau keyakinan tentang adanya Hyang Widhi Wasa itu timbul berdasarkan atas Catur Pramana, yaitu empat cara, ukuran atau jalan untuk mendapatkan pengetahuan yang terdiri dari.

1. Pratyaksa Pramana.

Suatu cara dengan melakukan pengamatan langsung dengan panca indra, misalnya melihat suatu benda, mendengarkan suara sayup-sayup, mencium bau yang harum dengan menikmati lezatnya rasa sehingga semua obyek dapat dilihat, dicium, didengar dan dirasakan, mengendap dan terekam dalam pikiran serta perasaan kita sehingga terjadi obyek yang diketahui yang disebut sebagai pengetahuan. Pengetahuam yang didapat dengan cara demikian disebut Pratyaksa Pramana. Pengetahuan untuk mengetahui wujud Hyang Widhi secara utuh dibutuhkan seseorang yang sudah suci bersih baik lahir maupun bathin, yang tidak ada keterikatan duniawi lagi.

2. Anumana Pramana.

Suatu cara untuk mendapatkan sesuatu benda berdasarkan suatu tanda atau gejala yang dapat diamati. Dengan kita mengetahui tanda-tanda sehingga kita dapat menarik kesimpulan untuk membuktikan adanya suatu benda suatu hal atau kejadian yang hendak diketahui. Kalau kita melihat asap dari kejauhan pasti di sekitar asap tersebut ada api, kalau tidak ada api tidak mungkin ada asap, sebabnya asap berasal dari sumbernya yaitu api. Jadi, kita menganalisa dengan tanda-tanda kejadian. Sebab hubungan antara api dengan asap adalah merupakan tanda-tanda atau gejala-gejala konkrit. Demikian pula seperti Hyang Whidi Wasa, kita belum mampu untuk melihat secara nyata bagaimana bentuk dan rupanya sehubungan kita mempunyai kemampuan terbatas. Tetapi dengan tanda-tanda yang kita amati seperti alam semesta dengan segala isinya yang tak mungkin diciptakan oleh manusia, alam semesta ini diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

3. Agama Pramana.

Suatu cara yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan dengan pemberitahuan, mendengarkan ucapan-ucapan atau mendengarkan cerita-cerita yang wajar dipercaya, karena disampaikan dengan kejujuran, kesucian, dan keluhuran budinya yang biasanya disebut juga dengan Sabda Pramana. Dengan membaca kitab-kitab suci Smerti, kita mendapat pengetahuan mengenai adanya Hyang Widhi Wasa, di mana dijelaskan ajaran suci mengenai ketuhanan yaitu kebenaran. Di samping mempelajari kitab-kitab suci, kita juga mendengarkan cerita /nasehat dari para resi.. Demikian pula cerita mengenai kebesaran Hyang Widhi Wasa, di mana alam semesta ini merupakan ciptaan Yang Maha Kuasa yaitu Hyang Widhi Wasa, sehingga timbul keyakinan kita Hyang Widhi Wasa memang ada dan mempunyai kemampuan yang luar biasa, yang sangat sulit diukur dengan kemampuan manusia.

4. Upamana Pramana.

Dengan melakukan perbandingan-perbandingan, manusia akhirnya percaya adanya Hyang Widhi Wasa. Banyak di alam semesta ini dapat dipakai sebagai perbandingan antara satu dengan lainnya, misalnya, sebuah almari yang sangat indah dibuat oleh tukang kayu yaitu orang yang mempunyai kemampuan dan daya cipta untuk membuat sebuah almari yang bagus dan kita berpikir lagi bahan almari dibuat dari kayu dan kayu berasal dari pohon. Manusia mempunyai otak, berpikir dengan akalnya dari mana datangnya pohon dan siapa yang menghidupi. Segala sesuatu yang ada pada alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, berdasarkan analogi manusia bahwa pohon termasuk isi alam semesta ini diciptakan oleh Hyang Widhi Wasa.

Brahman Maha Kuasa.

Brahman di samping sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur juga mempunyai kemaha kuasaan, meresap di semua jagat raya (bhuana), dan ada di mana mana, maha tahu, mengetahui segala kejadian yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Maka Brahman disebut juga Sakti Agung dan Maha Karya. Kesaktian dan keagungan Brahman dapat dibagi empat bagian yang disebut dengan Cadu Sakti yang terdiri dari :

1. Wibhu Sakti.

Brahman ada di mana mana yang meresap dan memenuhi bhuana atau jagat raya ini. Sehubungan Brahman ada di mana mana, apakah boleh kita bersembahyang di sembarang tempat. Dalam ajaran agama Hindu, kita dapat melakukan persembahyangan di Pura sebagai suatu tempat pemujaan ke hadapan Yang Maha Kuasa.Apabila dalam suatu lokasi belum ada Pura mungkin bisa digunakan suatu tempat tertentu yang penting bersih, mempunyai suasana kesucian dan tidak mengganggu lingkungan. Pada waktu kami pertama kali ke Jakarta tahun 1967 kami sangat terkejut bahwa di ibu kota RI yang umat Hindunya cukup banyak tidak mempunyai Pura, bagaimana melakukan persembahyangan untuk hari-hari raya agama Hindu. Setelah kami menanyakan beberapa tokoh umat Hindu dijelaskan bahwa Pura akan dibangun di Senayan yang sekarang disebut Taman Ria Remaja dan kami turut kerja bakti membersihkan rumput-rumput.. Demikian pula pengalaman kami di Balikpapan, sehubungan tidak ada pura tahun 1977 terpaksa umat Hindu bersembahyang di rumah yang sangat sederhana yang kini menjadi lokasi Pura Giri Jaya Natha yang sangat megah .Apabila dalam suatu lokasi tidak ada pura bukan berarti umat Hindu tidak melakukan persembahyangan, sebab Brahman ada di mana-mana Sekarang kita harus bersyukur sebagai umat Hindu ke manapun kita pergi, baik di kota tingkat propinsi maupun kabupaten di seluruh tanah air sudah hampir sebagian besar ada Pura sehingga Umat Hindu dapat melakukan persembahyangan.

2. Prabu Sakti.

Brahman menguasai dan merajai alam semesta beserta isinya di mana semua alam semesta beserta isinya ada yang mengatur. Semua planet bumi berputar dengan teratur, bumi mengitari matahari berputar dengan tertib sehingga tidak terjadi tabrakan, dan ada siang dan malam. Kita dapat bayangan bagaimana kalau Brahman berhenti sebentar saja bekerja, semua alam semesta beserta isinya akan kacau balau dan hancur lebur. Brahman mempunyai kekuasaan, apapun kehendaknya untuk menjadikan alam semesta ini dan pasti terjadi karena Brahman menguasai semua alam semesta beserta isinya.

3. Jnana Sakti.

Brahman mengetahui segala-galanya, maha tahu yang ada di alam semesta ini baik skala maupun niskala di mana Brahman mempunyai tiga guna kemuliaan yaitu Dura Darsana (penglihatan serba jauh), Dura Srawana (pendengaran serba jauh) dan Dura Ajnyana (berpengetahuan serba jauh). Kadang-kadang manusia berpikir bahwa Brahman sama dengan manusia, apabila manusia berbuat tidak baik Brahman tidak mengetahui. Padahal Brahman mempunyai kemampuan yang luar biasa, seperti apa kita pikirkan saat ini Brahman sudah mengetahuinya, maka kita sebagai manusia selalu mulai berpikir yang baik dan jernih, apapun tindakan kita Brahman akan mengetahuinya.

4. Krija Sakti.

Brahman mempunyai sifat Maha Karya yang dapat menciptakan dan membuat segala apa yang dikehendaki dan tidak ada yang menentang hukum kodratnya. Kalau Brahman mengatakan bahwa bumi ini sudah tua, di mana manusia sudah tidak mengikuti ajaran-ajaran Brahman maka dengan sekejap mata bumi ini akan hancur dan Brahman dapat menciptakan bumi lain beserta isinya. Demikian kemampuan Brahman apa yang dikehendaki akan dibuatnya sesuai dengan apa yang ingin diciptakan, sebab menurut Brahman inilah ajaran kebenaran mutlak yang di luar kemampuan manusia.

Di samping Cadu Sakti, Brahman juga mempunyai delapan kesaktian yaitu sifat kemaha kuasaan yang disebut dengan Asta Sakti (Asta Aiswaya). Brahman mempunyai sifat maha kecil (Anima), maha ringan (Laghima), maha besar (Mahima), dapat mencapai segala suatu tempat pada suatu saat (Prapti), segala keinginan tercapai (Prakamia), merajai segala-galanya (Isitwa), menguasai dan mengatasi segala-galanya tidak terpengaruh oleh hukum lahir, hidup, mati (Wasiswa), dan ke mana saja pergi tidak ada yang menghalangi, dan tetap berkuasa dengan menguasai segala-galanya (Yatra Kama).

Pemujaan Brahman.

Setelah kita mengetahui kemaha-kuasaan Brahman. maka umat Hindu melakukan pemujaan-pemujaan dengan melakukan upacara-upacara keagamaan yaitu ritual. Dari sudut filsafat upacara ialah suatu cara untuk melakukan hubungan antara Atman dengan Parama Atman, antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya, dengan jalan melakukan Yadnya untuk mencapai kesucian jiwa. Di daerah Bali acara pemujaan kepada Brahman sangat menonjol, di mana umat Hindu selalu melakukan pemujaan dengan upacara sehingga Pulau Bali terkenal dengan nama Pulau Dewata. Apabila upacara ritual dilakukan setiap hari disebut dengan Nitya Karma, misalnya, banten jootan yang dilakukan setiap hari. Dan apabila dilakukan pada saat tertentu disebut Nai Mitika Karma seperti hari raya Galungan, Kuningan, Nyepi, Pagerwesi dan sebagainya.

Adapun upacara keagamaan dalam agama Hindu berjumlah lima golongan yang disebut dengan Panca Yadnya yang bagi umat Hindu ini suatu kewajiban yang harus dilakukan sebagai pemujaan Brahman. Kelima upacara atau panca yadnya tersebut adalah, pemujaan yang dilakukan oleh umat Hindu ke hadapan Hyang Widhi Wasa disebut Dewa Yadnya, pemujaan kehadapan para leluhur disebut Pitra Yadnya, pemujaan kehadapan para Resi/Pendeta atau guru disebut Rsi Yadnya, pemujaan kepada semua makluk hidup disebut Bhuta Yadnya, pemujaan terhadap keselamatan umat manusia disebut Manusia Yadnya.

Kami sering mendapat pertanyaan dari ibu-ibu yang sebelumnya memeluk agama lain, kemudian masuk agama Hindu karena kawin dengan orang Hindu. Ibu tersebut mengatakan bahwa agama Hindu sangat sulit upacaranya dan sangat mahal. Padahal, dalam melakukan upacara panca yadnya tidak harus mahal, sebab dalam agama Hindu kita mengenal Utama, Madya dan Nista dan inipun dapat dipecah lagi yaitu utamaning utama, utamaning madya, dan utamaning nista. Demikian pula untuk madya dan nista.

Penutup.

Setelah kita mengetahui kemaha-kuasaan Brahman, timbul suatu keyakinan bahwa tanpa Brahman kita tidak bisa hidup, karena kita hidup dari atman dan atman merupakan pancaran Brahman. Manusia kadang-kadang selalu berpikir rasional dan realistik, karena manusia selalu dipengaruhi oleh sadripu yang merupakan enam musuhnya manusia itu sendiri yaitu kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya. Dan manusia selalu dikekang dengan keterikatan-keterikatan yang menyebabkan manusia berpikir selalu dengan logika. Para spiritual yang ilmu keagamaannya sudah tinggi, pengetahuan dharmanya sudah mendalam, setiap melakukan penganalisaan selalu menggunakan budi yaitu pancaran atma sehingga berpikirnya kebenaran hakiki dengan menggunakan kekuatan gaib, tidak hanya mengandalkan panca indranya saja. Pada saat Arjuna kebingungan dalam perang Bharatayuda, sampai Arjuna tidak mempunyai tenaga lagi dan tidak berdaya untuk berperang karena berhadapan dengan keluaganya sendiri, padahal Arjuna mempunya kemampuan yang cukup tinggi baik dalam ilmu perang maupun dalam bidang dharma karena dia belum percaya dan yakin bahwa Krisna sebagai kusirnya adalah awatara (penjelmaan Brahman). Arju masih menggangpap bahwa Krisna adalah manusia biasa yaitu iparnya sendiri. Setelah menampakkan wujudnya secara universal, di situ baru Arjuna dapat melihat keesaan seluruh alam semesta yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semuanya menyatu dalam tubuh Krisna. Dengan diliputi oleh rasa heran serta kekagumannya Arjuna menundukkan kepala penuh hormat dan menyakupkan tangan serta berkata: Oh Tuhan Yang Maha Kuasa, terpujilah Engkau, terpujilah selama lamanya. Kecemerlangan seribu matahari yang menyala bersama di angkasa tidak akan berarti jika dibandingkan dengan kemegahanMu. Engkau adalah yang maha tinggi pelindung abadi dharma yang kekal. Engkau adalah segala-galanya yang patut diketahui. Melihat wujudMu yang mengagumkan seluruh alam gemetar ketakutan, bagaikan sungai yang mengalir ke laut, demikian para pahlawan dalam dunia manusia ini masuk ke mulutmu yang menyala nyala. Sesudah itu Tuhan Yang Maha Kuasa kembali kewujud aslinya yang semula. Krisna berkata kepada Arjuna bahwa telah kutunjukkan kepadamu wujud Brahman yang maha besar.dan maha sakti dan jangan ragu, tanamkan keyakinan dan kepercayaan dalam hati sanubarimu akan kebesaran Brahman dan bangkitlah kembali dan angkat senjatamu mulailah melakukan kewajibanmu yang mulia ini yaitu peperangan.

Dengan melihat sendiri wujud Yang Maha Kuasa, baru Arjuna sadar dan semangatnya mulai tumbuh untuk melakukan peperangan. Kesadaran adanya Brahman serta ajaran-ajarannya adalah sebagai titik awal dari kebenaran yaitu dharma yang harus kita jalankan, sehingga kita selalu dapat perlindungan dan keselamatan Hyang Widhi Wasa.

T.G. PUTRA, Karyawan pertamina Pusat Jakarta
Raditya 1998

 
 Respond to this message   
Create your own forum at Network54
 Copyright © 1999-2014 Network54. All rights reserved.   Terms of Use   Privacy Statement