Return to Index  

Makna Penjor

January 30 2002 at 8:08 AM
I Nyoman Wirta 

 

Membaca pertanyaan Ida Bagus Anom Wijaya, Jl.Turi 51, Br. Ujung, Kel.Kesiman Denpasar, mengenai penjor (SP, 19/10), sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya, bagaikan menggalami lautan. Berdasarkan penjelasan yang saya terima menjelang hari Raya Galungan yang lalu, sekilas tentang hari Raya Galungan dapat saya himpun sebagai berikut:

1. Adanya hari Penyajan Jawa, Penyajan Bali bermakna bahwa penjelajah dari Jawa datang ke Bali dalam rangka menaklukkan orang-orang yang melarang manusia di Bali melakukan yadnya atau pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi.

2. Adanya hari Penampahan Galungan bermakna pembagian tugas yang harus diemban oleh orang-orang di Bali waktu itu, yang telah memenangkan kezaliman tadi. Untuk menghormati pemimpin perang waktu itu yang turunnya di dalam hutan bambu, maka sampai saat ini penjor terbuat dari bambu.

3. Penjor sama dengan penyejer bagi orang yang akan melakukan yadnya suci Mawidhi Widana. Kalau dalam zaman sekarang sama dengan bendera Merah Putih yang melambangkan kemerdekaan, merdeka dalam artian tidak ada lagi yang merintangi atau melarang untuk melaksanakan yadnya suci (kemerdekaan/kemenangan Dharma melawan Adharma). Bahan penjor dari bambu, yang melambangkan tingkah atau cara menuntun pelaksana, apa yang akan diunggulkan, itu yang dimuat/digantung di penjor. Bambu untuk penjor ujungnya tidak ada yang dipotong supaya tidak bermakna tiying tunggul karena kegunaan dan kekuatannya berkurang.

Dalam menancapkannya diharapkan batangnya lurus, ada ruas pada ujung bawah dan menancap ke tanah. Ini bermakna, dalam beryadnya atau dalam mengadakan suatu aktivitas mesti berdasarkan kemantapan (metu saking manah/pekayun) tur metulis ring lontar/buku, supaya tujuan yadnya tercapai.

Bambu penjor dibungkus ambu (daun enau muda) berwarna kuning, melambangkan keheningan kayun dan sampian melambangkan kesampaian kayun/tercapai tujuan dan kain putih melambangkan ketah (lumrah).

4. Makna sanggah penjor. Sanggah yang di atasnya bundar merupakan perwujudan gunung. Gunung ika ngaran giri, giri ika ngaran griya untuk mendalami pengetahuan di bidang kewikuan. Sanggah yang di atasnya segi tiga melambangkan Tri Sakti/Tri Wisesa, lambang tiga keprabuan yaitu Brahma, Wisnu, Siwa.


I Nyoman Wirta
Jl. Siulan, Perum Karya Samia Penatih I
Blok C 38 Denpasar

Balipost 27 Okt 2001

 
 Respond to this message   
Create your own forum at Network54
 Copyright © 1999-2014 Network54. All rights reserved.   Terms of Use   Privacy Statement