Return to Index  

Weda, Surga, dan Neraka

February 7 2002 at 2:35 PM
Siar Hindu Dharma Net 


Response to Raditya No.54

 

Di dalam berbagai kesempatan ketika ditanya apa sebenarnya yang beliau inginkan, Gandhi menjawab bahwa beliau tidak ingin dilahirkan kembali. Apa yang disebut tidak dilahirkan kembali sebenarnya adalah relative di dalam pengertian bahwa orang orang "biasa" dari waktu kewaktu memang dilahirkan kembali, tetapi mereka yang mukti/moksa tetap juga dilahirkan akan tetapi untuk tugas tertenu.

Misalnya, setiap akhir jaman Dvapari dan menjelang jaman Kali, Vyasa pasti terlahir kembali. Didalam Brahma Sutra hal ini dijelaskan bahkan cukup rinci ke mana jiwa akan pergi kalau seseorang meninggal. Dari sudut ini bisa dilihat bahwa didalam moksa yang terjadi adalah sadharmya (equivalent) dan bukan sayujya (identik) dengan Brahman. Dan pesan yang dibawa oleh Gita juga demikian.


I Made Wiwit Kastawan

Apakah "kelahiran" mereka-mereka tersebut sama dengan kelahiran kita yang dipengaruhi oleh hukum dunia (karma phala dan punarbhawa)? Dalam pandangan saya tidak. Ambil contoh dalam kisah Mahabarata. Sebelum mukti bahkan Yudistira-pun "harus menjalani hukuman" dulu akibat "kebohongan" kecil yang dilakukannya sebelum akhirnya mukti. Tapi Krishna tidak mengalaminya.

Jadi dalam hal ini saya berpendapat bahwa kelahiran mereka-mereka tersebut bukanlah sebagai kelahiran yang diakibatkan oleh rangkaian hukum karma phala dan punarbhawa. Dengan kata lain tidaklah tepat jika kelahiran mereka disebut sebagai punarbhawa (reinkarnasi) seperti yang kita jalani. Ataukah ada penjelasan yang lainnya dalam Weda mengenai hal ini seperti yang bapak sebutkan ada dalam Brahmasutra?

Terus terang sampai saat ini saya hanya sedikit membaca kitab suci, paling sering saya baca adalah Bhagawad Gita dan itupun ketinggalan di Indonesia. Jadi referensi saya hanyalah ingatan dan pelajaran-pelajaran agama yang diterima.


N. P. Putra

Agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Confucius, Shinto) lebih menekankan kepada moral, kepada tindakan etis dari para pengikutnya.

Agama-agama Timur umumnya tidak menyatakan dirinya sebagai yang paling benar, sebagai satu-satunya pemegang monopoli kunci 'surga' dan menuduh pihak lain sebagai sesat. Karena itu dalam agama-agama Timur tidak dikenal ada istilah murtad. Dalam agama-agama Timur kesetiaan kepada agama tidak dilandasi oleh ancaman atau ketakutan, tetapi karena kesadaran dan kecintaan.

Agama-agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) masing-masing mengakui dirinya sebagai yang paling benar (truth claim), bahwa keselamatan atau surga hanya diperuntukkan bagi pengikutnya, agama-agama lain adalah sesat. Sikap ekseklusive ini nampaknya dimulai oleh Yahudi, kemudian diteruskan oleh Kristen dan Islam. Orang-orang Yahudi, sebagai kelompok minoritas di antara peradaban besar di sekitarnya, melakukan hal itu untuk melindungi tradisinya agar tidak lenyap ditelan oleh tradisi besar disekitarnya.

Khusus mengenai perkawinan antar agama sepanjang yang saya ketahui, hanya Islam yang mengatur secara tegas: laki-laki Islam boleh kawin dengan perempuan dari agama lain, perempuan Islam yang kawin dengan laki-laki dari agama lain, dianggap murtad. Dalam Islam orang murtad halal darahnya (boleh dibunuh).

Dalam agama Yahudi dan Kristen, mereka yang pindah agama, misalnya orang Yahudi masuk Kristen akan dianggap tidak mendapat keselamatan oleh orang Yahudi (keluar dari the Chosen People, rakyat pilihan Tuhan). Demikian pula sebaliknya, orang Kristen yang beralih menjadi Yahudi atau Islam, tidak akan mendapat keselamatan, karena keselamatan atau surga Bapa yang hanya dapat dicapai melalui Yesus, Putranya.

Ketentuan-ketentuan semacam ini saya kira bermaksud melindungi para pengikut suatu agama agar tidak pindah ke agama 'saingannya'. Hindu sebagai agama tertua dan bersikap inklusif atau mengakui dan menerima keyakinan lain merasa tidak memiliki saingan, dan karena itu tidak membuat aturan mengenai "pindah agama ini."

Jadi sekali lagi, kesetiaan atas agama kita tidak didasarkan atas ancaman neraka, tetapi karena kesadaran dan kecintaan akan kebenarannya.


I Made Wiwit Kastawan

Saya tertarik dengan kalimat terakhir dari Bapak Putra ini, "Hindu sebagai agama tertua dan bersikap inklusif atau mengakui dan menerima keyakinan lain merasa tidak memiliki saingan, dan karena itu tidak membuat aturan mengenai "pindah agama ini."

Kalau menyimak pernyataan tersebut, saya menangkapnya seolah-olah aturan dalam kitab agama tersebut sama seperti UUD. Bedanya (mungkin) UUD yang dibuat untuk kehidupan bernegara dan kitab dibuat untuk kehidupan beragama umatnya. Selanjutnya, jika memang aturan-aturan dalam Veda itu memang sengaja dibuat, bisakah aturan-aturan tersebut diubah, siapa yang berhak mengubahnya dan bagaimana bentuk perubahannya, apakah dalam bentuk buku tafsiran?

Tentang kalimat terakhir Pak Putra, "Jadi sekali lagi, kesetiaan atas agama kita tidak didasarkan atas ancaman neraka, tetapi karena kesadaran dan kecintaan akan kebenarannya", saya pernah mendengar pendapat dari penceramah agama saat kuliah dulu bahwa dalam Hindu tidak ada konsep neraka dan sorga. Yang ada setelah kita meninggal kita lahir kembali (punarbhawa) atau moksa, benarkah?


Made Kresna

Dengan pengetahuan saya yang sangat sempit, saya berusaha untuk menjawab: Dalam Veda disebutkan beberapa kali tentang "surga/swargaloka" dan neraka. Demikian pula disebutkan dalam doa untuk orang meninggal, "Om Swargantu, Mokshantu..."

Persepsi saya tentang surga adalah Hindu tidak mengenal adanya surga seperti agama Semitik, yaitu tempat yang penuh emas, permata dan bidadari cantik. Secara gamblang saya menolak deskripsi semacam ini, karena kalau ternyata surga hanya memenuhi kebutuhan material, untuk apa jauh-jauh ke sorga, di bumi juga ada (perhatikan, rumpun Semitik menolak "moksha" sehingga surga adalah "the most ideal place".)

Surga yang saya dambakan adalah surga yang semata, dengan ketenangan dan kedamaiannya, memenuhi kebutuhan spiritual saya. Yang membedakan surga dengan moksha adalah bahwa di surga, masih ada "illusion/maya". Surga di sini hanyalah perhentian sementara, bukan tujuan utama. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa surga sesungguhnya merujuk kepada kelahiran surga (kelahiran dengan berbagai kemudahan sebagai pahala karmanya).


N. P. Putra

Pak Wiwit, Weda lebih banyak berkaitan dengan Yadnya, yang secara sempit diartikan sebagai ritual. Kitab-kitab Upanishad, Bagawad Gita, Brahmasutra berkaitan dengan tattva (teologi, filsafat, etika). Kitab-kitab yang belakangan ini menspiritualkan ritual Weda. Sedangkan ketentuan-ketentuan hukum terdapat dalam Manawa Dharma Sastra. Mungkin dapat dianalogikan Weda, Upanishad, Bagawad Gita memuat nilai-nilai kehidupan, termasuk nilai hukum, yang abadi. Ketentuan-ketentuan hukum - seperti yang dimuat dalam Manawa Dharma Sastra - mengikuti perkembangan masyarakat. Artinya ketentuan-ketentuan hukum yang tidak sesuai bisa ditinggalkan, ketentuan-ketentuan baru bisa diciptakan. Swami Wiwekananda mengatakan sudah saatnya masyarakat Hindu dewasa ini membuat dharmasastranya sendiri yang baru.

Ritual perkawinan memang ada diatur dalam Manawa Dharma Sastra, tetapi saya tidak tahu apakah juga diatur perkawinan antar agama, atau masalah pindah agama?

Tentang konsep neraka dan surga dalam kitab-kitab Sruti (Weda, Upanishad dan Bagawad Gita) hanya disebut secara singkat, dan dikatakan hanya bersifat sementara. Yang menjadi tujuan tertinggi Hindu adalah Moksha. Moksha, Karma dan Reinkarnasi yang banyak dibahas dalam kitab-kitab Sruti. Kitab-kitab Purana konon -- saya belum pernah membacanya -- menggambarkan surga dan neraka yang sangat detil dan fantastis. Sebagaimana diketahui kitab-kitab Purana, kedudukannya di bawah Sruti, Smerti dan Itihasa, jadi mungkin semacam kitab tafsir.


I Made Wiwit Kastawan

Terima kasih atas penjelasannya. Saya dapat menerima penjelasan Pak Putra dan Pak Made Kresna mengenai konsep sorga dan neraka di mana penjelasannya sejalan juga dengan penjelasan dari beberapa rekan-rekan diskusi saya di Bandung dulu, walaupun saya masih sedikit belum jelas dengan kalimat "sebagai tempat sementara sebelum Moksha". Apakah tempat sementara di sini diartikan sebagai suatu tempat setelah kita meninggal dunia atau semasih kita hidup? Karena kalau tidak salah kita juga mengenal konsep Moksha yang dicapai saat kita masih hidup di dunia.

Kemudian saya masih ada pertanyaan mengenai adakah ketentuan hukum dalam Hindhu, yang seperti telah Pak Putra sebutkan diatur dalam Manawa Dharma Sastra (disingkat MND), yang bersifat mengikuti perkembangan jaman. Pertanyaannya apakah hal ini berarti bahwa nilai kebenaran yang terdapat MND tersebut cukup hanya merupakan kebenaran yang diakui oleh suatu masyarakat? (Sejauh yang saya tahu nilai kebenaran masyarakat berbeda untuk masyarakat yang berbeda). Selanjutnya terkait dengan hal di atas, kenapa kita (katakanlah masyarakat Hindhu di wilayah A) tidak membuat aturan dalam MND (seperti saran Swami Vivekandanda) yang melarang perkawinan umat Hindhu dengan umat lain untuk mencegah umat kita yang ternyata (menurut realitas di lapangan) paling mudah untuk berpaling dari agama?

Prediksi saya, banyak yang tidak setuju. Tapi apa alasannya atau nilai kebenaran apa yang digunakan?

Maaf jika saya terlalu banyak bertanya karena saya pikir hanya di media inilah saya bisa bertanya banyak tentang Hindhu. Mohon dimengerti.


N. P. Putra

Dalam pengertian ortodhox, surga dan neraka itu ada di dunia setelah kematian. Tapi tentu ada penafsiran liberal bahwa surga dan neraka itu bisa terjadi di dunia ini. Peperangan, pengkhianatan mungkin ditafsirkan sebagai nereka di dunia. Kebahagiaan (Joy) -- bahkan oleh sebagian orang kesenangan (pleasure) -- dianggap sebagai surga di dunia. (Dalam bahasa Sansekerta kata kebahagiaan dan kesenangan itu di bedakan dengan kata 'preya' dan 'sreya'. Cuma saya lupa yang mana kebahagiaan yang mana kesenangan?).

Kalau tidak salah, sekte Waisnawa mengenal konsep ini (Moksha yang dicapai saat kita masih hidup di dunia) yang disebut 'Jivan Mukti'. Bagaimana bentuknya, saya tidak tahu pasti. Sebab Moksa diartikan bersatunya jiwa dengan Tuhan (atman dengan Brahman) ketika jiwa tak lagi berada dalam 'bungkus' tubuh. Tapi manusia yang masih hudup kan memiliki tubuh. Barangkali Jivan Mukti dicapai oleh orang yang, sekalipun masih memiliki tubuh, tapi sudah tidak terikat lagi dengan tubuh, dengan duniawi.

Tentang pertanyaan mengenai adakah ketentuan hukum dalam Hindhu, sebagaimana halnya hukum ada yang bersifat universal, artinya ada dalam sistem hukum setiap bangsa, setiap zaman, misalnya larangan membunuh, mencuri, fitnah, korupsi. Tapi ada juga yang bersifat khusus, untuk suatu waktu dan suatu tempat atau golongan orang. Misalnya, dalam KUHP kita ada pasal yang menentukan bahwa menjual alat KB merupakan tindak pidana.

Sekarang ketentuan ini sudah di 'nonaktifkan'. Contoh lain, membakar janda atau sati -- ini masih dipraktekkan oleh raja Tabanan pada abad 18 -- adalah kewajiban hukum yang mulia dari seorang istri. Sekarang 'sati' ini merupakan kejahatan yang amat sangat tidak berprikemanusiaan. (Kalau mulia, kok kewajiban ini hanya diberikan kepada istri, tapi tidak kepada suami? Dasar laki-laki).


Made Kresna

Saya sendiri cenderung untuk mempercayai bahwa ketika kita meninggal dan ternyata belum dapat mencapai moksha, maka kita masuk surga, setelah itu bereinkarnasi kembali, terus-terusan begitu, sampai kita bisa moksha. Kalau sudah bisa moksha sebelum meninggal ya malah lebih bagus. Akan tetapi dari satu ayat yang saya pernah baca, orang yang telah mencapai moksha sebelum meninggal bisa jadi nantinya tereinkarnasi lagi, tetapi tujuannya untuk menjadi "guru" di dunia (awatara?)

Lalu, soal peraturan itu, saya mungkin terdengar agak apatis, tapi ketika agama menjadi hubungan pribadi dengan Tuhan, apakah kita perlu menetapkan peraturan agar umat Hindu harus menikah dengan umat Hindu juga? Itu kan sama sekali tidak mencegah umat Hindu untuk pindah agama? Yang mestinya ditanamkan oleh orang-orang tua Hindu adalah agar anaknya benar-benar mengerti agamanya. Kalau harus seagama, kenapa bukan umat lainnya itu yang "mengalah"? Kalau orang Indonesia sudah mengerti bahwa Hindu itu mudah dan logis, tentunya pandangan skeptis dan kasus-kasus proselitasi tidak perlu lagi terjadi, bukan?

Saya baru berusia 17 tahun, jangan dipanggil Bapak. (Catatan Redaksi Raditya: Made Krena sekarang ini baru kelas III IPA di SMA Pelita Harapan Sentul, sebuah sekolah yang sangat menekankan diskusi, termasuk diskusi antaragama).


Made Jaya Wiryawan

Di dunia ini agama mana sih yang logis? Misal, semua agama percaya pada Tuhan. Lalu orang yang tak percaya pada Tuhan akan menilai orang yang beragama sebagai orang yang tak logis. Koq percaya pada yang tidak kelihatan, itu kan nggak logis. Dan bermacam rupa ritual yang dianggap mereka tak logis.

Beragama tak dapat dinilai dengan logis dan tak logis. Karena keyakinan individu terhadap agamanya juga tak dapat dilihat begitu saja dengan mata telanjang atau pikiran logis. Orang yang sudah yakin, paham, kuat dalam menjalankan agamanya, peluang untuk pindah ke agama lain akan kecil. Justru dia akan berusaha "menarik" calon pengikut agamanya. Sudahkah kita introspeksi ke dalam akan hal ini?


Made Kresna

De Jaya, apakah anda yakin bahwa percaya pada Tuhan itu tidak logis? Ada satu anekdot yang menceritakan seorang profesor atheis mencecar murid-muridnya (yang theis) dengan pertanyaan-pertanyaan kira-kira seperti ini: "Darimana kamu yakin bahwa Tuhan itu ada? Padahal di antara kalian tidak ada yang pernah melihatNya". Dan seterusnya dan seterusnya. Lalu muridnya menjawab, "Kalau begitu mungkin otak anda juga sesungguhnya tidak ada, karena di antara kita belum ada yang pernah melihatnya."

Dari mana kita tahu bahwa otak profesor itu ada? Tentu saja dari outputnya, bukan? Dari mana kita tahu bahwa Tuhan itu ada? "KeberadaanNya" perceptible melalui ciptaanNya. Bukankah salah satu dari Tri Premana berangkat dari prinsip "ada asap pasti ada api". Bukankah kita harus tahu mengapa kita mempercayai sesuatu? Kalau kita percaya namun tidak tahu mengapa, buntut-buntutnya ya kultus individulah, fanatisme berlebihanlah.


I Made Wiwit Kastawan

Tulisan Made Kresna soal reinkarnasi, kok kayaknya kontradiktif sekali dengan arti reinkarnasi yang pernah saya ketahui. Konsep dari reinkarnasi adalah kelahiran kembali/penderitaan. Di lain pihak moksha adalah menyatunya atman dengan brahman dengan kata lain lepas dari point 3 dan 4 Panca Sradha. Jadi mestinya kalau orang sudah moksha enggak bisa lagi menjalani reinkarnasi karena itu sepertinya menyimpang dari konsep Panca Sradha. Bagaimana kira-kira Made penjelasannya?

Lalu, soal peraturan dan mencegah umat Hindu untuk pindah agama saya sangat setuju dengan point ini. Agama adalah hubungan vertikal antara manusia dan Tuhannya. Hanya ada satu yang mengikatnya "keyakinan". Dan ini tidak membutuhkan pembuktian logis atau tidak. Kebebasan beragama menjadi gak pribadi dan termasuk salah satu HAM jadi sangatlah tidak baik jika kita memaksakan agama kepada seseorang. Itulah sebabnya saya tulis "prediksi saya banyak yang tidak setuju jika hukum larangan nikah dengan agama lain ditetapkan". Apakah ada penjelasan dalam Weda mengenai hal ini?


Made Kresna

Saya rasa yang banyak berpengaruh dalam konsep reinkarnasi adalah bagaimana kita memandang reinkarnasi itu sendiri. Bagi orang yang sudah moksha, tentunya reinkarnasi tidak lagi merupakan penderitaan. Atmannya sudah melebur dengan Brahman sehingga reinkarnasinya di dunia tidak lagi untuk mencapai moksha, tapi lebih sebagai "alat" Tuhan untuk membantu orang lain mencapai moksha. Jika Tuhan bisa berinkarnasi, mengapa orang yang telah mencapai moksha (jiwanya sudah bersatu dengan Tuhan) tidak mungkin berinkarnasi kembali? Tentu saja hal ini sekali lagi bergantung kepada bagaimana kita melihat reinkarnasi tersebut. Jadi, tidak kontradiktif bukan? Saya tidak tahu tentang aturan pernikahan dalam Veda (saya tidak mendalami sastra). Sebenarnya dalam hukum Indonesia telah disebutkan bahwa pernikahan hanya sah apabila kedua mempelai seagama.

 
 Respond to this message   
Create your own forum at Network54
 Copyright © 1999-2014 Network54. All rights reserved.   Terms of Use   Privacy Statement